Kamis, 16 Mei 2013

Wasiat


A.    PENGERTIAN WASIAT
Wasiat menurut bahasa berasal dari bahasa arab, yaitu dari kata “Washiyyatun” artinya pesan.
Sedangkan menurut istilah (syara’) artinya:  “Pesan terhadapsesuatu yang baik, yang harus dilaksanakan atau dijalankan sesudah seseorang meninggal dunia”.
Wasiat secara umum tidak hanya dalam masalah harta,tetapi bisa pula dalam bentuk pesan yang lain.
B.     HUKUM WASIAT
Jika diliat dari segi cara objek wasiat maka hokum berwasiat adalah sebagai berikut.
1.  Wajib
Wajib, dalam hal yang berhubungan dengan Allah, seperti zakat, fidyah, puasa dan lain lain yang merupakan utang yang wajib ditunaikan.
2.  Sunnah
Sunnah, apabila berwasiat kepada selain kerabat dekat dengan tujuan kemaslahatan dan mengharap ridho Allah.
3.  Makruh
Makruh, apabila hartanya sedikit, tetapi ahli warisnya banyak. Serta keadaan mereka sangat memerlukan harta warisan sebagai penunjang dalam hidupnya, atau biaya untuk melanjutkan sekolahnya.
4.  Haram
Haram, apabila harta yang diwasiatkan untuktujuan yang dilarang oleh agama. Misalnya, mewasiatkan untuk tempat perjudian atau tempat maksiat.
                                                
C.     RUKUN DAN SYARAT WASIAT
Rukun wasiat adalah:
1.    Orang yang mewasiatkan (mushi).
2.    Orang/pihak yang menerima wasiat (musa lahu).
3.    Harta/sesuatu yang diwasiatkan (musha bihi).
4.    Ijab qabul (shighat wasiat).

Dari masing-masing rukun wasiat diatas syarat-syarat yang harus dipenuhi, yaitu:
1.         Syarat-syarat orang berwasiat
a)        Balig
b)        Berakal sehat
c)         Atas kehendak sendiri, tanpa paksaan dari pihak manapun.
2.    Syarat orang/ pihak yang menerima wasiat :
a)        Harus benar benar ada, meskipun orang/pihak yang diwasiatkan tidak hadir pada saat wasiat diucapkan.
b)        Tidak menolak pemberian yang berwasiat.
c)         Bukan pembunuh orang yang berwasiat.
d)        Bukan ahli waris yang berhak menerima warisan dari orang yang berwasiat, kecuali atas persetujuan ahli waris lain.
3.    Syarat-syarat harta/sesuatu yang diwasiatkan :
a)        Jumlah wasiat tidak lebih dari sepertiga dari seluruh harta yang ditinggalkan.
b)        Dapat berpindah milik dari seseorang kepada orang lain.
c)         Harus ada ketika wasiat diucapkan.
d)        Harus dapat memberi manfaat.
e)        Tidak bertentangan dengan hukum syara’ misalnya, wasiat agar membuat bangunan megah diatas kuburannya.
4.    Syarat-syarat sighat :
a)        Kalimatnya dapat dimengerti atau dipahami, baik dengan lisan maupun tulisan.
b)        Penerimaan wasiat diucapkan setelah orang yang berwasiat meninggal dunia.
                                                        
D.    PELAKSANAAN DALAM WASIAT
1.       Kadar Wasiat
Sebanyak-banyaknya wasiat adalah sepertiga dari harta yang dipunyai oleh orang yang berwasiat. Yaitu harta bersih setelah dikurangi utang apabila orang yang berwasiat meninggalkan utang
2.  Pendapat para ulama tentang kadar wasiat apabila tidak mempunyai ahli waris, yaitu:
a)   Sebagian ulama berpendapat, tidak boleh berwasiat lebih dari sepertiga harta miliknya
b)   Sebagian ulama lainnya berpendapat boleh mewasiatkan lebih dari sepertiga hartanya.

E.     HIKMAH WASIAT
1.    Menaati perintah Allah SWT sebagaimana tertuang dalam Qs. Al-Baqarah/2: 180.
2.    Sebagai amal jariyah seseorang setelah dirinya meninggal dunia.
3.    Menghormati nilai-nilai kemanusiaan, terutama bagi kerabat atau orang lain yang tidak mendapat warisan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar