Gemericik
air hujan menemani seorang gadis bernama Gea yang sedang mengukir namanya
dengan embun di jendela kafé milik ibunya. Tiba – tiba
sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh seorang pemuda yang mengalungkan gitar
di pundaknya datang untuk sekedar berteduh dari derasnya hujan. Karena tidak
tega melihat pemuda tersebut kebasahan di pinggiran kafénya, Gea pun mengajak pemuda tersebut untuk masuk ke
dalam kafénya. “Masuk aja yuk.” kata Gea. “Oh gapapa aku disini
aja.” kata pemuda tersebut. “Mendingan masuk, lagian masih hujan, yuk.” kata
Gea. Karena tidak mau berdebat dengan gadis tersebut, akhirnya pemuda tersebut
masuk ke kafé. Saat di Kafé, Gea
memberikan teh hangat kepada pemuda tersebut. Mereka pun berkenalan. “Ayo
diminum” kata Gea. “Oh makasih.” kata pemuda itu. “Nama aku Gilang.” kata pemuda
itu. “Nama aku Gea.” kata Gea. Setelah berkenalan, mereka pun menikmati suasana
tenang yang ditemani oleh gemericik air hujan dan diiringi lagu Mabuk Kepayang
yang dinyanyikan oleh Ungu. “Ini kafé kamu iya?” kata Gilang. “Bukan, ini kafé punya
mama, tapi mama lagi ke luar kota, jadi aku dulu yang bantuin.” kata Gea. “Itu gitar kesayangan kamu?” kata Gea. “Iya, dari
mana kamu tau?” kata Gilang. “Kamu rela basah – basahan tapi gitarnya kamu
bungkus pake jaket kamu.” kata Gea. “Hehehe, kamu bisa maen gitar?.” kata
Gilang. “Gak bisa. Dulu aku pengen banget belajar, tapi gak boleh sama orang
tua.” kata Gea. “Beneran pengen belajar?.” kata Gilang. “Kenapa? Kamu mau
ngajarin aku?.” kata Gea. “Kenapa enggak?.” kata Gilang.
Setelah
hujan cukup reda Gilang pun berpamitan ke Gea karena dia sudah ditunggu
temannya di tempat Gilang dan teman-temannya biasa latihan. “Masih hujan,
mendingan nunggu sebentar lagi sampai reda.” kata Gea. “Gapapa lagian cuma
gerimis kok, aku juga udah ditungguin sama temen aku.” kata Gilang. “Oh yaudah,
hati- hati iya.” kata Gea. “Makasih iya tehnya.” kata Gilang. Gilang pun
langsung menuju ke Kafé tempat dia dan teman-teman
latihan. Setelah Gilang pergi, Gea pun merasa bahagia atas kejadian yang baru
terjadi pada dirinya, bahkan cangkir teh yang tadi diminum oleh Gilang berulang
– ulang kali diperhatikan dengan baik – baik. “Sungguh terlalu.” kata karyawan
kafé yang
bernama Iqbal. “Apaan sih terlalu – terlalu, ganggu aja.” kata Gea. “Lagian
kamu cengar – cengir sama mug, abis ngobrol sama mug?.” kata Iqbal. “Yee enak
aja.” kata Gea. “Eh aku tau, itu mug tadi yang di pake sama lelaki itu kan?”
kata Iqbal. “Iya.” kata Gea. “Tapi oke juga sih, siapa tuh?” kata “Gilang.” kata
Gea. “Hah? Gelang?.” kata “Gilang, Iqbal. Gilang, Ge - I Gi L - A La N - G Ng,
Gilang.” kata Gea. “Kok kayak nama kucing kesayangan gue?” kata Iqbal. “Yang
jelek itu ya? Trus dekil, bulukan, belekan mulu iya? Banyak kutunya, trus suka
nyolong ikan iya?” kata Gea. “Kamu tega banget ngehina kucing kesayangan aku.
Oh jangan- jangan tuh cowok juga suka nyolong ya?.” kata Iqbal. “Nyolong
apaan?” kata Gea. “Nyolong hati wanita, kayak kamu.” kata Iqbal. “Kayaknya sih
begitu, bal.” kata Gea sambil senyum – senyum sendiri.
Saat
tiba di tempat latihan, Gilang pun meminta maaf kepada teman-temannya karena dia terlambat.
“Hallo bro, sorry aku telat.” kata Gilang. “Iya gapapa kok.” kata
teman-temannya. “Gita mana?.” kata Gilang. “Gak tau, tadi sih aku telepon gak
diangkat.” kata temannya yang bernama Angel. “Sebentar iya.” kata temannya yang
bernama Nando. “Aku mau ngomong sama kamu, Lang.” kata Nando ke Gilang. “Aku
tau kamu deket sama Gita.” kata Nando. “Iya tapi itu kan dulu.” kata Gilang.
“Aku gak peduli deh dulu sama sekarang, yang jelas kamu gak bisa tegas sama
dia, kamu tuh leader band kita.” kata
Nando. “Aku tuh males iya ngebahas sekarang, yang penting Angel bisa gantiin
Gita kan?.” kata Gilang. “Nanti aku omongin sama Gita, oke?” kata Gilang. “Aku
tau kamu masih sayang sama dia.” kata Nando. “Yaudahlah gak usah ngomongin
sayang, lagian itu juga masa lalu.” kata Gilang. “Jujurlah sama diri kamu
sendiri.” Kata Nando. “Ok! Kamu pengen aku tegas kan sama Gita?.” kata Gilang. Gita
pun datang. Akan tetapi saat Gita datang, Gilang tidak menegurnya karena dia
sering sekali terlambat latihan. Nando pun marah dan menganggap Gilang pilih
kasih karena Gita merupakan mantan pacarnya. “Eh sorry iya aku telat, aku susah
dapat kendaraan nih. Nando jangan cemberut gitu donk, aku janji aku gak bakal
telat lagi ya, sumpah.” kata Gita. “Gila! Cemen banget. Aku cuman minta kamu
tegas sama dia. Susah iya? Ntar kita juga yang repot. Aneh banget sih.” kata
Nando. Tiba – tiba Gita menghampiri Nando yang sedang membetulkan sound system
untuk keperluan manggung. “Maafin aku iya. Kamu tau kan kalo hujan nyari taksi
tuh susah.” kata Gita. Namun Nando tak menghiraukan ucapan Gita. “Uuh heran deh,
kenapa sih Nando tuh kayaknya sebel banget sama aku. Kayaknya aku tuh musuh yang
harus dibunuh tau gak.” kata Gita ke Gilang. “Salah kamu sendiri.” kata Gilang.
“Salah aku? Salah aku cuma datang telat, Lang dan itu pun gara – gara hujan,
kamu kan tau masa gak ada pengecualian sih.” kata Gita. “Eh kamu pikir aku gak
benci ngeliat kamu berantem terus sama Nando? Apalagi masalahnya sama, kamu gak
disiplin, kamu suka telat.” kata Gilang. “Aku emang suka telat, tapi enggak
selalu, lagian kenapa sih jadi masalah besar?” kata Gita. “Iyalah masalah besar,
dimana – mana tuh disiplin masalah besar. Aku pengen kamu berubah, disiplin
dikit kenapa sih. Aku gak mau dianggap pilih kasih sama yang lain. Dulu kita
emang pernah deket, tapi sekarang berbeda. Sorry aku harus ngomong kayak gini
sama kamu.” kata Popo. Mereka pun menyanyikan lagu yang biasa mereka nyanyikan.
Saat cinta
berakhir
Lukai
hati,sesali diri
Tak pernah
ku mengerti
Isi hatimu
akan diriku
Akankah
kembali lagi
Cintayang
dulu
Dapatkah
kita satukan kasih
Ku ingin
dirimu kembali
Setelah selesai latihan, Gilang pun langsung
menuju rumah kafé milik ibunya Gea. “Hai, aku kesini buat nepatin janji.” kata
Gilang. “Aku tau kok, kamu pasti nepatin janji.” kata Gea. Akhirnya Gilang pun
mengajari Gea permainan gitar. “Aku udah buatin modul yang gampang buat kamu
belajar maen gitar.” kata Gilang. “Senarnya akan terdengar sempurna kalo kamu
menekannya dengan kuat, tapi kalo terlalu kuat juga nanti jari kamu sakit. Untuk
para pemula kayak kamu, pasti di ujung – ujung jarinya pasti bakal terasa
sakit.” kata Gilang. “Gapapa kok. Yang penting aku bisa maen gitar.” kata Gea. “Kamu
tuh berbakat iya.” kata Gilang. “Kamu jangan bikin aku ge-er.” kata Gea. “Gitar
ini buat kamu.” kata Gilang. “Jangan, nanti aku beli sendiri aja, lagian kan
ini gitar kesayangan kamu.” kata Gea. “Justru itu, aku pengen kamu belajar pake
gitar ini. Aku serius, dan aku bakal seneng banget kalo kamu gak nolak.” kata
Gilang. “Makasih iya, Lang. Tapi kenapa kamu yakin banget aku harus nerima
gitar ini?” kata Gea. “Aku juga gak tau kenapa. Kadang ada satu hal yang gak bisa
dijelasin pake logika. Aku merasa gitar ini harus bersama sama kamu.” kata
Gilang. Setelah mengajari Gea bermain gitar, Gilang pun pamit untuk pulang.
Gilang pergi ke sebuah tempat dimana dia sudah membuat janji dengan Nando.
“Namanya Gea.” kata Gilang. “Cantik?.” kata Nando. “Lebih sekedar dari cantik,
dia juga bisa nyanyi. Kapan – kapan aku kenalin sama anak – anak iya?” kata
Gilang. “Sip. Iya sebenarnya CD demo yang kemarin dibalikin sama produser itu
sebenarnya peringatan buat kita, supaya lebih serius.” kata Nando.
Keesokan harinya, Gea menemui sahabatnya yang
juga satu kampus dengannya. “Hola.” kata Gea. “Hai. Kamu baca buku apaan sih?
Buku panduan maen gitar?” kata sahabatnya yang bernama Wanda. “Iya.” kata Gea.
“Tumben banget kamu ada perhatian lebih sama musik?” kata wanda “Aku juga gak
tau kenapa nih.” kata Gea. “Aneh deh. Eh bal kamu tau gak kenapa bos kamu ini
tumben banget dia memperdalam musik lho. Kamu tau kan biasa yang dia baca itu
apa? Novel. Sekarang yang dibaca buku panduan maen gitar” kata Wanda. “Kamu gak
tau kan? Gea ini lagi deket sama pemain band.” kata Iqbal. “Wow, serius kamu?.
Eh kok kamu gak cerita – cerita sih sama aku? Cerita donk, curang ah” kata
Wanda. “Dasar ember.” kata Gea. “Eh Gea, kalo punya kabar baik itu mesti disebarluasin
biar banyak yang ngedoain.” kata Iqbal. “Ember banget lu.” kata Wanda. “Ada deh
namanya Gilang.” kata Gea. “Gelang.” kata Iqbal. “Pake I bukan E, bal.” kata
Gea. “Gilang, iya Gilang.” kata Iqbal. “Pemain band, jago maen gitar, dan ...”
kata Gea. “Dan apa?” kata “Ganteng pisan euy. Aku juga suka, Ge. Boleh gak?”
kata Iqbal. “Orang gila deh dasar omongannya.” kata Gea.
Saat Gea berada di rumah, tiba – tiba Gilang meneleponnya
untuk mengajak Gea pergi ke sesuatu tempat dan Gea menyetujuinya. Gilang pun
menjemput Gea di rumahnya. Setibanya di rumah Gea, Gilang dan Gea pun langsung
berangkat ke sesuatu tempat yang ternyata tempat latihan Gilang dan temen –
temennya. “Ini dia, kafé dimana aku sama temen – temen latihan kalo
malem. Kamu kenapa?” kata Gilang. “Aku malu.” kata Gea. “Malu kenapa?.” kata
Gilang. “Iya malu aja ketemu sama temen – temen kamu.” kata Gea. “Yaelah temen
– temen aku asik semua kok, ok? Udah ayo masuk.” kata Gilang. Saat sudah masuk
ke dalam kafé tersebut, Gilang pun mengenalkan Gea ke teman – temannya. “Angel,
kenalin teman aku Gea.” kata Gilang ke Angel. “Hai, aku Angel.” kata Angel ke
Gea. “Hai, aku Gea.” kata Gea. “Klo gitu aku sama Gaby ke dalam dulu ya.” kata
Gilang. “Ok.” kata Angel. “Halo, bro. Kenalin ini teman aku, Gaby.” kata
Gilang. “Halo, aku Nando.” kata Nando. “Hai, aku Agnes.” kata Agnes. “Hai, aku
Gaby.” kata Gaby. “Enak ya bisa punya band sendiri.” kata Gea. “Bisa nyanyi?”
kata Nando. “Enggak.” kata Gea. “Kata Gilang bisa.” kata Nando. “Udah duet aja
kali.” kata Agnes. “Aku temenin pake gitar iya, ok?” kata Gilang. Akhirnya Gea
pun menyetujui untuk berduet bersama Gilang.
Cinta ku pernah memilih
Dia yang sangat aku impikan
Namun kini dia tlah pergi
Kau hadir dalam hatiku
Sungguh aku menyadari
Takkan mampu mengganti dirinya
Bukan aku tak menginginkan
Mengisi ruang hatimu
From heart to heart
Kau memohon kepadaku
Demi kasih yang selalu kau berikan
Luluhkanku hingga dirimu menyerah
Tempatkanlah aku disisimu
Kini sudah kau dapatkan
Akuuntuk pendamping dirimu
Aku hanya mengharapkanmu
Mengerti kekuranganku
Alunan suara merdu yang
keluar dari bibir Gea membuat produser musik yang awalnya mencampakkan band
mereka kini terpesona dengan suara emas dari Gea. Sang produser itu pun
menawarkan kepada band mereka untuk rekaman. Tawaran itulah yang membuat Gita,
vokalis band mereka merasa tersingkirkan. “Oh iya Ge, kenalin ini Gita vokalis
band kita.” kata Popo. “Hai, aku Gita.” kata Gita. “Hai, aku Gea.” kata Gea.
”Suara kamu lumayan.” kata Gita. “Makasih.” kata Gea. “Lang, aku harus pulang
dulu.” kata Gea. “Lho? Gak nunggu kita manggung aja?” kata Gita. “Lain kali
aja, soalnya ada tugas kuliah yang harus dikumpulin besok.” kata Gea. “Kalau
gitu aku anterin pulang ya?” kata Gilang. “Aku naik taksi aja.” kata Gea.
“Yaudah aku anterin ke bawah.” kata Gilang.
Gilang pun mengantar
Gea sampai ke depan studio. Tapi tiba – tiba di depan pintu studio ada seorang
bapak – bapak yang sedang menunggu. Bapak – bapak itu pun menghampiri Gea dan
Gilang. “Kamu Gea ya?” kata bapak – bapak itu. “Benar pak, ada apa ya?” kata
Gea. “Jadi gini, saya sudah mendengar suara kamu tadi, dan saya tertarik untuk
mengajak kamu dan band kalian untuk rekaman di PH saya. Itupun kalau kalian
berminat” kata bapak – bapak itu. “Wah dengan senang hati pak kami pasti terima
tawaran bapak” kata Gilang. “Baiklah kalau begitu, ini kartu nama saya, kalian
bisa hubungi saya kapan kalian bisa datang atau mungkin kalian bisa langsung
datang ke kantor saya.” kata bapak – bapak yang diketahui bernama Pak Sudiro
itu sambil menyerahkan kartu namanya ke Gilang dan Gea. “Oke baik pak, kami
akan segera menghubungi Bapak.” kata Gilang.
Keesokan harinya Gilang
dan teman – temannya pun segera menghubungi Pak Sudiro dan mengatakan kalau
mereka sudah siap untuk rekaman. Pak Sudiro pun mengatakan kalau mereka bisa
datang kapan saja ke kantornya untuk rekaman. Akhirnya Gilang dan teman –
temannya pun memutuskan untuk datang ke kantor Pak Sudiro nanti malam.
Jam 8 malam pun mereka
semua sudah berada di kantor Pak Sudiro. Mereka pun langsung rekaman dan
disaksikan langsung oleh Pak Sudiro. Setelah rekaman selesai pun Pak Sudiro
langsung menyampaikan kepada mereka kalau dia ingin bekerja sama dengan bandnya
Gilang dan teman – temannya. Gilang dan teman – temannya pun akhirnya
menyetujuinya dan menandatangani kontrak kerja sama itu.
Band mereka pun semakin
terkenal, lagu – lagu yang mereka ciptakan dan nyanyikan pun lagu – lagu easy
listening yang mudah didengar dan diterima oleh masyarakat. Kesuksesan mereka
itu pun tidak lepas dari peran Gea. Hal itu pun membuat Gita iri dan marah.
Gita pun berniat untuk “melabrak” Gea. Saat Popo dan teman – temannya sedang
manggung di sebuah kafé, Gita pun hadir disana. Setelah acara selesai,
Gita pun langsung melabrak Gea. “Eh kamu tuh ya, anak baru udah bikin aku dikeluarin
dari band ini aja!!!” kata Gita sambil marah – marah. “Maaf ya Gita, aku gak
ngerti sama ucapan kamu.” kata Gea. “Git, apa – apaan sih kamu, kenapa kamu
nyalahin Gea? Dia kan gak salah, justru karena dia band kita jadi sukses kayak
gini kan?!” kata Gilang. “Kamu tega ,Lang. Kamu lebih ngebela dia daripada
aku!” kata Gita. Akhirnya Gita pun pergi meninggalkan Gilang dan teman –
temannya.
Semenjak saat itu pun
Gita “lost contact” dengan Gilang dan
teman – temannya. Band Gilang dan teman – temannya pun semakin sukses sampai
menjadi salah satu band “papan atas”.
- Selesai -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar