A. PENGERTIAN WASIAT
Wasiat menurut bahasa berasal dari
bahasa arab, yaitu dari kata “Washiyyatun” artinya pesan.
Sedangkan menurut istilah (syara’)
artinya: “Pesan terhadapsesuatu yang
baik, yang harus dilaksanakan atau dijalankan sesudah seseorang meninggal
dunia”.
Wasiat secara umum tidak hanya dalam
masalah harta,tetapi bisa pula dalam bentuk pesan yang lain.
B. HUKUM WASIAT
Jika diliat dari segi cara objek
wasiat maka hokum berwasiat adalah sebagai berikut.
1. Wajib
Wajib, dalam
hal yang berhubungan dengan Allah, seperti zakat, fidyah, puasa dan lain lain
yang merupakan utang yang wajib ditunaikan.
2. Sunnah
Sunnah,
apabila berwasiat kepada selain kerabat dekat dengan tujuan kemaslahatan dan
mengharap ridho Allah.
3. Makruh
Makruh,
apabila hartanya sedikit, tetapi ahli warisnya banyak. Serta keadaan mereka
sangat memerlukan harta warisan sebagai penunjang dalam hidupnya, atau biaya
untuk melanjutkan sekolahnya.
4. Haram
Haram,
apabila harta yang diwasiatkan untuktujuan yang dilarang oleh agama. Misalnya, mewasiatkan
untuk tempat perjudian atau tempat maksiat.
C. RUKUN DAN SYARAT WASIAT
Rukun wasiat adalah:
1.
Orang
yang mewasiatkan (mushi).
2.
Orang/pihak
yang menerima wasiat (musa lahu).
3.
Harta/sesuatu
yang diwasiatkan (musha bihi).
4.
Ijab
qabul (shighat wasiat).
Dari masing-masing
rukun wasiat diatas syarat-syarat yang harus dipenuhi, yaitu:
1.
Syarat-syarat
orang berwasiat
a)
Balig
b)
Berakal
sehat
c)
Atas
kehendak sendiri, tanpa paksaan dari pihak manapun.
2.
Syarat
orang/ pihak yang menerima wasiat :
a)
Harus
benar benar ada, meskipun orang/pihak yang diwasiatkan tidak hadir pada saat
wasiat diucapkan.
b)
Tidak
menolak pemberian yang berwasiat.
c)
Bukan
pembunuh orang yang berwasiat.
d)
Bukan
ahli waris yang berhak menerima warisan dari orang yang berwasiat, kecuali atas
persetujuan ahli waris lain.
3.
Syarat-syarat
harta/sesuatu yang diwasiatkan :
a)
Jumlah
wasiat tidak lebih dari sepertiga dari seluruh harta yang ditinggalkan.
b)
Dapat
berpindah milik dari seseorang kepada orang lain.
c)
Harus
ada ketika wasiat diucapkan.
d)
Harus
dapat memberi manfaat.
e)
Tidak
bertentangan dengan hukum syara’ misalnya, wasiat agar membuat bangunan megah
diatas kuburannya.
4.
Syarat-syarat
sighat :
a)
Kalimatnya
dapat dimengerti atau dipahami, baik dengan lisan maupun tulisan.
b)
Penerimaan
wasiat diucapkan setelah orang yang berwasiat meninggal dunia.
D. PELAKSANAAN DALAM WASIAT
1.
Kadar
Wasiat
Sebanyak-banyaknya wasiat adalah sepertiga dari harta yang
dipunyai oleh orang yang berwasiat. Yaitu harta bersih setelah dikurangi utang
apabila orang yang berwasiat meninggalkan utang
2. Pendapat para ulama tentang kadar wasiat apabila tidak
mempunyai ahli waris, yaitu:
a)
Sebagian
ulama berpendapat, tidak boleh berwasiat lebih dari sepertiga harta miliknya
b)
Sebagian
ulama lainnya berpendapat boleh mewasiatkan lebih dari sepertiga hartanya.
E. HIKMAH WASIAT
1.
Menaati
perintah Allah SWT sebagaimana tertuang dalam Qs. Al-Baqarah/2: 180.
2.
Sebagai
amal jariyah seseorang setelah dirinya meninggal dunia.
3.
Menghormati
nilai-nilai kemanusiaan, terutama bagi kerabat atau orang lain yang tidak
mendapat warisan.